Ketidakmampuan Bergerak dan Tirah baring lama pada Lansia

  Medikaholistik.com     Dec, 05 2012      110,791 views

Dengan makin bertambahnya usia seseorang, maka kemungkinan terjadinya penurunan anatomik dan fungsional atas organ-organ tubuhnya makin besar. Penurunan anatomik dan fungsional dari organ-organ tersebut akan menyebabkan lebih mudah timbulnya penyakit pada organ tersebut yang pada kondisi parah dapat menyebabkan mereka harus berbaring di tempat tidur selama lebih dari 3 hari hari atau duduk di kursi roda, tak mampu bergerak atau memiliki aktivitas kecuali dibantu oleh orang lain.

Imobilisasi atau tirah baring lama adalah ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif sebagai akibat dari berbagai penyakit atau impairment (gangguan pada alat atau organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi bisa menyebabkan berbagai komplikasi sistemik yang akan menyebabkan kondisi pada lansia menjadi lebih parah dan dapat berakibat kematian, terutama jika kondisi itu telah diabaikan tanpa ada perawatan medis yang tepat dan sesuai dengan tatalaksana yang benar.

Hal yang dapat menyebabkan ketidakmampuan bergerak pada lansia terjadi karena adanya gangguan pada sistem gerak tubuh, meliputi tulang keropos (osteoporosis), pembesaran sendi, pergeseran tendon, keterbatasan gerak, dan kelemahan otot yang dapat terjadi akibat proses penuaan. Istirahat di tempat tidur dalam jangka waktu yang lama tanpa adanya kegiatan pun akan menurunkan aktivitas metabolisme umum sehingga mengakibatkan menurunnya kinerja organ tubuh seseorang. Apabila hal ini terjadi terus menerus, maka dapat menyebabkan sindrom ketidakmampuan bergerak (imobilisasi).

Tatalaksana perawatan pada lansia yang tidak mampu bergerak (imobilisasi) membutuhkan kerja sama dari segala pihak, meliputi tim medis, pasien, keluarga, atau orang-orang di sekitar (terdekat) lansia. Adapun hal yang dapat dilakukan, yaitu :

  1. Pendidikan (edukasi) kepada pasien, keluarga, atau orang-orang sekitar (terdekat) lansia mengenai bahaya dari tidak bergerak atau beraktivitasnya lansia (berbaring sepanjang hari), pentingnya latihan bertahap dan ambulasi (kegiatan berjalan atau bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa menggunakan alat bantu, seperti tongkat atau kruk) dini, serta mencegah ketergantungan lansia dengan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri, sesuai dengan kemampuannya.
  2. Dilakukan tinjauan lansia lengkap, perumusan target fungsional, dan pembuatan rencana terapi mencakup waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi.
  3. Mengevaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi. Obat-obatan yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau bahkan dihentikan (jika memungkinkan).
  4. Berikan nutrisi yang cukup (untuk mencegah malnutrisi atau kekurangan nutrisi), asupan cairan dan makanan yang mengandung serat (untuk mencegah konstipasi), serta suplementasi vitamin dan mineral.
  5. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis tercapai. Latihan tersebut meliputi latihan mobilitas di tempat tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan/atau aktif dengan bantuan), latihan penguat otot-otot, latihan koordinasi atau keseimbangan, dan ambulasi terbatas. Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri dan ambulasi.
  6. Mengenali dan berikan terapi bila terjadi infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi, serta penyakit/kondisi penyetara lainnya. Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi medik kepada dokter spesialis yang kompeten.
  7. Melakukan menajemen buang air kecil dan buang air besar, seperti memasang kateter, melakukan bladder training (salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan ke keadaan normal) atau membantu dalam penggunaan toilet.
  8. Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada lansia yang mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti jompo untuk mobilitas yang cukup bagi lansia yang mengalami disabilitas (kecacatan) permanen.
  9. Melakukan dukungan terapi.

Disusun dari berbagai sumber
Dr. Yuda Turana, SpS / Medikaholistik.com

Share :