Nyeri pada Lansia

  Medikaholistik.com     Jun, 26 2013      99,657 views

Nyeri merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan keberadaannya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. Semua orang pernah mengalami nyeri termasuk orang lanjut usia (lansia). Pada usia lanjut banyak terjadi perubahan fisiologis pada fungsi organ-organ tubuh yang dapat menjadi faktor pencetus nyeri dan bahkan mempengaruhi tatalaksana dari nyeri tersebut.

Berdasarkan onsetnya, nyeri terbagi dua macam, yaitu :

  1. Nyeri akut. Umumnya terjadi karena suatu tujuan yaitu usaha tubuh untuk melakukan proteksi terutama karena adanya kerusakan jaringan (cedera). Nyeri akut memiliki onset yang cepat dan mendadak. Nyeri akan sembuh dan hilang kurang dari 2 minggu.
  2. Nyeri kronis. Nyeri kronis adalah rasa tidak nyaman yang tetap ada walaupun nyeri akut telah hilang. Nyeri seperti ini menyebabkan penurunan dari kesehatan dan fungsi dari penderita. Pada umumnya nyeri kronis berhubungan dengan ansietas (perasaan cemas) dan depresi. Nyeri kronis berlangsung lebih dari 3 bulan

Umur dapat membedakan persepsi dan respon seseorang terhadap nyeri. Pada lansia, ambang nyeri meningkat tetapi lansia juga menjadi lebih sensitif terhadap nyeri yang hebat. Meningkatnya ambang nyeri ini menghambat diagnosis nyeri pada lansia. Hal-hal tersebut terjadi karena :

  1. perubahan pada struktur, biokimia, dan fungsi dari serabut-serabut saraf perifer
  2. menurunnya jumlah-jumlah saraf ber-mielin dan tidak ber-mielin
  3. meningkatnya kerusakan saraf dan perubahan pada neurotransmitter
  4. menurunnya kecepatan hantaran saraf.

Selain gangguan kognitif dan memori, perubahan fisiologis yang terjadi pada lansia menyebabkan perubahan pada reaksi terhadap nyeri dan juga kadar obat dalam tubuh. Perubahan-perubahan fisiologis pada organ tubuh dapat mengubah farmakologi dari analgesik yang diberikan. Perubahan-perubahan fisiologis tersebut diantaranya meningkatnya kadar lemak tubuh, menurunnya kadar air dalam tubuh, menurunnya fungsi hepar, dan menurunnya fungsi ginjal.

Dalam menegakkan diagnosis nyeri pada lansia dapat diketahui melalui karakteristik dari nyeri, riwayat penyakit, aktivitas sehari-hari, serta pemeriksaan fisik pada lansia. Untuk pengobatan nyeri tergantung pada penyebab, onset (nyeri akut atau nyeri kronis), patofisiologi (meliputi asal penyakit, proses terjadinya penyakit, dan lain-lain), dan penyakit penyerta. Adapun hal yang dapat dilakukan untuk penanganan nyeri pada lansia terdiri dari langkah nonfarmakologi dan farmakologi.


  1. Non-farmakologi
    Pada nyeri akut terutama karena cedera digunakan prinsip RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation). Rest diartikan adalah istirahat pada bagian yang mengalami cedera. Pada bagian tubuh yang mengalami cedera akan menyebabkan nyeri, karena nyeri akut menandakan adanya kerusakan jaringan dan nyeri dijadikan sinyal untuk perlindungan jaringan lebih lanjut ( sebaiknya tidak melakukan tindakan memijat daerah yang nyeri). Istirahat dan imobilisasi (mengurangi kegiatan) pada bagian tersebut akan mencegah kerusakan lebih lanjut pada jaringan sekitarnya, contohnya pada pasien dengan patah tulang dilakukan fiksasi untuk imobilisasi dan istirahat organ tersebut. Pemakaian tongkat jalan juga merupakan salah satu upaya mengistirahatkan anggota gerak yang nyeri.

    Kompres dingin atau hangat, peregangan otot dan sendi yang bermasalah, gerakan-gerakan aerobik ringan juga dapat membantu mengatasi nyeri akut maupun kronis.

    Pada nyeri yang menetap, evaluasi oleh petugas kesehatan secara berkelanjutan dianjurkan. Apabila dengan tatalaksana yang sudah diberikan ternyata kondisi pasien tidak membaik maka alternatif terapi lain perlu dipertimbangkan.

  2. Farmakologi
    Tatalaksana (pengobatan) nyeri yang adekuat perlu dilakukan agar dapat meningkatkan kualitas hidup dari lansia. Nyeri akut dan kronis memiliki langkah tatalaksana (pengobatan) yang berbeda. Pada pasien dengan tatalaksana nyeri kronis dan memerlukan terapi analgesik yang lama, maka tindak lanjut berupa penyesuaian dosis dan evaluasi efek samping, fungsi ginjal dan fungsi hepar.

    Cara pemberian obat juga harus diperhatikan berkaitan dengan waktu paruh obatnya. Pemberian obat secara oral cenderung memiliki waktu paruh lebih lama dibandingkan dengan obat injeksi selain itu kadar obat dalam darah juga cenderung lebih stabil pada pemberian oral. Oleh karena itu, pemberian obat analgesik pada pasien lansia lebih aman dengan menggunakan obat oral. Setiap kali pasien mendatangi tenaga medis, riwayat pemakaian obat yang digunakan sebaiknya selalu diinformasikan oleh pasien kepada tenaga medis. Penggunaan obat nyeri jangka lama sebaiknya dihindari dan perlu pemantauan dokter. Perlu diingat bahwa nyeri hanyalah gejala yang timbul. Sebaiknya tidak hanya menghilangkan gejala saja namun perlu ditelaah penyebab nyerinya. Pendekatan terapi tidak hanya mengandalkan obat saja namun pendekatan psikologis sangat penting. Nyeri akan bertambah saat pikiran kita terfokus pada nyeri. Demikian juga nyeri bertambah saat depresi dan cemas. Pendekatan psikologis sangatlah membantu untuk mengurangi nyeri.

Disusun dari berbagai sumber
Dr. Yuda Turana, SpS / Medikaholistik.com

Share :